ads

MITOS “INCOME OPPORTUNITY” DI MLM

Klaim MLM dalam memberikan kesempatan “pendapatan paruh waktu” ataupun “pendapatan tambahan” adalah daya tarik utama dari mereka. Ini juga alasan terkuat mereka untuk melawan berbagai gugatan penipuan piramida, pengendalian pikiran, dan promosi yang tidak jujur.

Pertanyaannya adalah apakah MLM membawa persoalan sosial dan finansial atau membawa manfaat bagi para konsumen. Legitimasi dari jenis usaha ini akhirnya mengaburkan kebenaran ataupun ketidakbenaran dari klaim adanya pendapatan mereka. Ini adalah sebuah pertanyaan yang akan mempengaruhi setidaknya lima juta penduduk Amerika Utara yang direkrut setiap tahunnya dan tak terhitung penduduk lainnya di negara yang lain.

Laporan ini membeberkan kenyataan bahwa 99% representatif sales dari perusahaan yang dianalisa hanya mendapatkan rebate income (pendapatan berupa diskon dan atau komisi) $14 per minggu. Angka ini belum termasuk biaya bisnis, pembelian inventori, dan pajak. Angka ini merepresentasikan fakta bahwa secara virtual hampir semua partisipan program MLM kehilangan uang. Sebagai tambahan, laporan ini juga membuktikan secara rata-rata tidak ada net income yang didapat oleh distributor MLM yang mencoba melakukan penjualan retail door-to-door.

Perusahaan MLM biasanya mencoba menutupi laporan tingkat kegagalan partisipan mereka yang sangat tinggi dengan hanya melaporkan jumlah partisipan “aktif” dan membatasi laporan pendapatan para distributor dalam jangka waktu satu tahun ataupun kurang, dan juga tidak melaporkan kerugian masif dari investor-investor baru mereka. Kebanyakan MLM tidak melaporkan data penerimaan rata-rata distributor mereka.

Bila semua partisipan selama periode 5 tahun ikut dikalkulasikan, tingkat kegagalan akan meningkat jauh lebih tinggi. Kurang dari 1 di antara 1000 peserta akan menunjukkan adanya keuntungan yang mereka dapatkan. Mereka yang disebut para distributor “sukses” sebenarnya berakumulasi dalam jumlah yang relatif sedikit di level atas dari jenjang organisasi mereka.

Model bisnis dari kebanyakan perusahaan MLM menyebabkan kerugian masif dari jutaan konsumen, bukannya disebabkan oleh faktor kompetisi yang normal atau tingkat usaha ataupun bakat dari partisipannya.

Kerugian kolektif yang terjadi adalah dalam bentuk transfer kekayaan dari jutaan orang di Amerika setiap tahun kepada segelintir pemilik dan perekrut. Seperti faktor lainnya yang memberikan kontribusi dalam pemiskinan, transfer kekayaan ini menyebabkan rusaknya kredibilitas kredit, pernikahan yang terganggu, persahabatan yang berakhir, dan keresahan masyarakat.

Dari dua kategori kesempatan pendapatan MLM, rebate income dan retail sales income, yang paling sering dipublikasikan adalah pendapatan rebate, komisi, dan bonus yang didapat dari pembelian downline. Ini adalah jenis pendapatan yang mana perusahaan mengklaim akan bisa memberikan “potensial tak terbatas” yang didasari oleh pendapatan akibat rantai “tak terbatas” para peserta yang terrekrut.

Laporan ini menganalisa data dari lima perusahaan MLM. Tiga di antaranya adalah perusahaan besar dan sangat terkenal. Satunya adalah perusahaan baru dan sedang berkembang. Laporan disajikan dalam bentuk pembayaran per 10.000 peserta program. Data menunjukkan bahwa tidak cuma secara virtual tidak ada peserta yang mendapatkan keuntungan rebate tetapi juga terjadi transfer kekayaan dari peserta yang mengalami kerugian ke kantong dari sejumlah kecil anggota organisasi di level atas dari rantai distribusi.

Sebuah laporan spesial disediakan mengenai data rebate dari perusahaan MLM paling lama dan paling besar, Amway/Quixtar. Laporan tersebut disajikan dalam basis pendapatan rata-rata per 300.000 peserta. Data menunjukkan pola yang sama di mana 99+% partisipan mengalami kerugian dan terjadi akumulasi kekayaan di level atas dari organisasi.

Angka-angka dari laporan Amway/Quixtar harus dipelajari secara terpisah karena adanya sebuah bisnis tambahan yang dijalankan para distributor level atas yang menghasilkan pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pendapatan yang mereka terima dari sistem Amway/Quixtar. Pengoperasian dari bisnis tambahan mereka (“tools business” yang meliputi penjualan buku, kaset, dan registrasi seminar kepada peserta baru) mempengaruhi program pembayaran dan taktik perekrutan mereka.

Dioperasikan tanpa disadari oleh partisipan baru, sumber pendapatan “rahasia” ini telah diperkarakan dan diumumkan di internet selama bertahun-tahun. Bulan Mei 2004, program berita nasional NBC Dateline membawa sebuah kamera yang disembunyikan ke salah satu acara pertemuan perekrutan mereka dan berhasil mengekspos kejahatan mereka. Para “kingpins” Amway/Quixtar mendapatkan mayoritas dari pendapatan mereka lewat bisnis perekrutan, bukan dengan menjual produk Amway.

Menyamar atas nama Direct Selling (Penjualan Langsung)

Elemen kedua dari “income opportunity” MLM adalah janji-janji akan adanya keuntungan kepada distributor lewat penjualan langsung ke pasar retail (konsumen). Kesempatan penjualan retail ini adalah basis dari argumen mereka bahwa MLM adalah direct selling. Selain itu, kemungkinan penjualan retail juga dijadikan sebagai argumen utama melawan gugutan praktek skema piramida yang sering ditujukan kepada mereka, karena para upline mendapatkan uang lewat pembelian produk oleh partisipan baru, bukan lewat biaya (fee) masuk / membership.

Laporan ini mengekspos mitos dari klaim MLM bahwa mereka adalah perusahaan direct selling dari laporan penjualan retail mereka. Karena faktor-faktor yang akan ditulis dalam laporan ini, para distributor MLM jarang menghasilkan penjualan retail. Sebuah statistik dari 21 perusahaan MLM yang merepresentasikan 5 juta partisipan dengan “proyeksi” penjualan retail sebesar $10 milyar dolar membuktikan bahwa bahkan kalau penjualan retail benar-benar terjadi, rata-rata sales MLM tidak mendapatkan net profit sama sekali dari penjualan retail.

Kebanyakan perusahaan MLM memiliki berbagai cara untuk mengaburkan fakta bahwa mereka bukan perusahaan direct selling:

Mayoritas MLM mengkalkulasikan total pembelian dari distributor mereka dan kemudian memproyeksikan “keuntungan retail“ tanpa mengverifikasikan apakah produk benar-benar dijual di pasar retail atau bukan, dijual pada harga berapa ataupun dijual ke siapa. Walaupun penjualan ke konsumen diklaim ada dan dipublikasikan, secara internal pembayaran ke para distributor didasarkan sepenuhnya kepada pembelian harga “grosir” mereka. Tidak masalah apakah penjualan retail benar-benar terjadi atau tidak, perhitungan pendapatan upline dihitung hanya dari pembelian para downline mereka.

Sejumlah perusahaan mengklaim mereka “mengharuskan” aktifitas retail dari para distributor mereka, namun tidak ada metode yang sistematis untuk mengaudit aktifitas mereka. Kenyataan bahwa suatu perusahaan perlu membuat aturan “harus menjual ke retail” pada dasarnya sudah menunjukkan pertanda kuat sebuah permasalahan model bisnis MLM dan kecenderungan mereka untuk beroperasi sebagai skema perekrutan piramida.

Sejumlah perusahaan MLM kenyataanya melaporkan total volume penjualan berdasarkan proyeksi penjualan retail yang tidak ditemukan, bahkan menggunakan angka-angka itu untuk dilaporkan kepada Securities and Exchange Comission dan kepada para pemegang sahamnya.

Temuan yang ditulis dalam laporan ini mengungkit sebuah pertanyaan tentang bagaimana sebuah bisnis, yang mana hampir tidak ada anggota sales mereka yang mencatatkan keuntungan dan nyaris tidak ada konsumen retail, bisa dikategorikan sebagai direct selling? Dan sebenarnya bagaimana perusahaan seperti itu bisa disebut sebagai sebuah “bisnis”?
SHARE THIS ARTICLE :

0 Response to "MITOS “INCOME OPPORTUNITY” DI MLM"